Selasa, Agustus 4, 2026

Berita Terkini

Batik Impor China Tantang Kelestarian Batik Surakarta

Meneguhkan Identitas Batik Solo : Strategi Melawan Gempuran Batik Impor

SURAKARTA – Gempuran batik impor dari China, khususnya batik printing, telah menjadi tantangan serius bagi kelestarian batik tradisional di Surakarta, Jawa Tengah. Dengan harga yang jauh lebih murah, banyak konsumen yang lebih memilih produk batik printing tersebut, mengancam keberlangsungan usaha batik lokal.

Para pengrajin batik di Surakarta yang telah mengandalkan tradisi dan keahlian mereka selama bertahun-tahun kini merasa tertekan oleh masuknya produk-produk impor yang tidak hanya lebih terjangkau, tetapi juga beragam dalam desain. Kondisi ini memaksa para perajin untuk beradaptasi dengan cepat agar bisa bersaing di pasar.

Mirisnya kondisi itu memaksa banyak pedagang lokal yang beralih meninggalkan produk lokal ke produk impor hanya untuk mengejar cuan. Permintaan konsumen dan menjawab kebutuhan konsumen terhadap harga produk yang murah menjadi alasannya.

Pedagang batik, Dewi menceritakan pengalamannya selama 40 tahun berkecimpung di dunia batik di Solo. Dewi lebih memilih batik printing (impor) untuk dijual karena melihat pembeli suka yang murah, tanpa peduli kualitas.

“Wisatawan dalam membeli oleh-oleh tidak memandang kualitas hanya sekedar mencari buah tangan bisa dibawa pulang,” di Ruko D Pasar Klewer Surakarta.

Batik printing berupa baju dan pakaian yang dijual tersebut dibanderol Rp 20-40 ribu. Kemudian untuk perpotong batik print dengan perpotong ukuran 2 meter, pasaran menjual 70-100 ribu, berbeda halnya dengan batik tulis yang lama terjual karena harganya cukup mahal.

“Harga batik tulis mahal, mulai dari Rp 1 juta – Rp 3 juta per potong,” ujarnya.

Baca Juga:  Stok BBM Nataru, Pertamina Siapkan Layanan 24 Jam di 242 SPBU Jalur Tol dan Wisata

Seorang pembeli di Pasar Klewer, Titi (55), sengaja mengunjungi Pasar Klewer dari Mojokerto untuk membeli beberapa kain dan baju dari batik cap. Tentunya harga murah menjadi alasannya untuk memilih produk.

“Ini sekalian rekreasi. Harga disini murah-murah. Satu potong 110 ribu,” papar Titi.

Titi, menyebut tak memilih belanja online, supaya bisa menyentuh secara langsung kualitas bahan yang dibeli.

“Mending beli langsung ke pasar karena bisa tahu bentuk dan bisa pegang barangnya,” tandasnya.

Menurut Pemerhati Batik Universitas Pekalongan, Sri Puji Astuti menjelaskan, kondisi daya beli masyarakat yang rendah dinilai menjadi alasan utama untuk membeli produk batik printing yang murah. Tidak perlu merogoh kocek yang mahal hanya untuk mengenakan fashion kekinian.

“Rakyat kecil ya mikir-mikir mementingkan fesyen dengan alasan menguri-uri budaya tetapi harus mengeluarkan uang banyak,” jelas dia.

Walaupun diakuinya, desainer batik Solo dan Yogyakarta sangat mumpuni bahkan bisa mengungguli desainer dari Pekalongan. Namun mereka akan kesulitan jika dari proses desain sampai menjadi bahan produksi jadi dan pemasaran dilakukan sendiri.

“Makanya tidak sedikit produsen batik terkenal dari Danarhadi dan Batik Keris juga memproduksinya di Pekalongan, dengan kontrol kualitas yang ketat dan desain dari mereka,” jelasnya.

Kondisi ini membuat bisnis batik Pekalongan dan Solo ini menjadi dalam situasi simbiosis mutulisme. Meskipun sebenarnya yang paling dirugikan adalah buruh batik karena keringatnya dibayar tidak cukup layak.

Baca Juga:  Lapas Semarang Pindahkan 14 Warga Binaan Ke Nusakambangan

Perajin Pekalongan Jadi Tumpuan

Hantaman produk batik printing impor mungkin sudah lama bisa menggerus kelestarian Batik Solo. Beruntung, Kabupaten Pekalongan bak pahlawan, punya peran penting untuk menjaga produksi dan pemenuhan batik di Indonesia dan Solo pada khususnya.

Sri Puji Astuti mengklaim, 70 persen batik yang ada di Indonesia merupakan hasil dari tangan dingin perajin batik di Pekalongan.

Ada sejumlah alasan yang membuat UMKM Batik Solo menggantungkan hidupnya terhadap perajin di Pekalongan, di antaranya adalah harga Sumber Daya Manusia (SDM) yang murah.

“Harga SDM perajin batik di Pekalongan dibayar murah Rp 35 ribu per hari, yang tidak dimiliki daerah lainnya,” ujar dia.

Kemudian ketersediaan mori, yang menjadi bahan baku pembuatan batik juga telah tersedia di Pekalongan. Termasuk di antaranya penyedia obat batik sintetis yang menjadi pewarna untuk corak batik tersebut pun sangat mudah mendapatkannya di Kota Batik.

“SDM ada, mori sudah ada dari pabrik, dan obat batik juga ada. Dan ketiga hal ini yang menjadi pembeda Pekalongan dengan daerah yang lainnya,” ujar dia.

Ketiga penyedia ini juga memiliki identitas etnis yang berbeda. Misalnya perajin, mayoritas merupakan masyarakat lokal jawa. Sedangkan saudagar kain, kebanyakan dikuasai etnis Arab dan pedagang obat batik ini dikuasai pedagang dari China.

“Hubungan antara etnis Arab, Jawa dan China yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain ini tidak ada di kota lain selain di Kota Pekalongan,” ujarnya.

Baca Juga:  Pemkot Bandung dan KPK Gencar Sosialisasi Edukasi Anti Korupsi

Setiap sentra produksi batik didominasi industri skala kecil menengah. Batik telah menyerap tenaga kerja hingga 200 ribu orang, yang tersebar di 47 ribu unit usaha di 101 daerah di Indonesia berdasarkan data Kementerian Perindustrian.

Batik, yang diakui sebagai warisan budaya oleh UNESCO, telah berkontribusi pada ekspor Indonesia. Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS) sumbangan ekspor batik mencapai USD 17,53 juta (Rp283 miliar) pada tahun 2023, dan naik 14% pada Januari-Februari 2024, batik paling banyak di ekspor ke negara-negara, seperti: Amerika Serikat (74,75%), Jerman (3,61%), Singapura (3,23%), Malaysia (2,82%) dan Kanada (1,92%).

Perbedaan Motif Batik

Batik Solo umumnya memiliki motif yang menggambarkan alam seperti bunga dan burung. Corak dan motif batik Solo juga memiliki simbol dan makna yang berbeda, misalnya “sidomulyo” yang merupakan simbol kebahagiaan, “sidodadi” yang merupakan simbol kemakmuran, “satrio wibowo” yang merupakan simbol kewibawaan dan “asmorodono tikel” yang merupakan simbol cinta kasih.

Sedangkan Batik Pekalongan umumnya berwarna cerah dan bertema alam dengan tekstur dan desain yang lembut. Motif warna-warni sebagian besar dipengaruhi oleh budaya dari negara lain seperti Tiongkok, Arab, dan Belanda. Untuk mencari Batik Pekalongan Anda bisa mengunjungi Pasar Grosir Setono yang sudah berdiri sejak tahun 1939. || Chantingsolo.my.id

Latest Posts

spot_img

Jangan Lewatkan