Karya : Jessica Resky Aulia
SEMARANG — Di balik setiap paket yang tiba di kos-kosan mahasiswa rantau, sering kali tersimpan lebih dari sekadar barang. Ada perhatian, doa, dan kasih sayang yang menempuh perjalanan ribuan kilometer untuk sampai ke tangan orang yang dicintai.
Hal itulah yang dirasakan Hani (20), mahasiswi asal Sumatra yang telah hampir tiga tahun menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Semarang, Jawa Tengah.
Merantau untuk pertama kalinya bukanlah perkara mudah bagi Hani. Meninggalkan keluarga dan kampung halaman demi mengejar pendidikan membuatnya harus belajar banyak hal, mulai dari kemandirian hingga memahami makna kehidupan yang lebih luas.
“Sejak awal kuliah di Semarang, ibu selalu berpesan kalau saya butuh apa pun harus bilang. Walaupun jauh, beliau ingin tetap memastikan semua kebutuhan saya terpenuhi,” ujar Hani, di Semarang, Senin (1/6/2026).
Jawa Tengah menjadi pilihannya untuk melanjutkan pendidikan. Selain dikenal memiliki banyak perguruan tinggi berkualitas, tanah Jawa juga menjadi tempat yang mengajarkannya berbagai pengalaman hidup sebagai seorang perantau.
Fenomena yang dialami Hani sejatinya juga dirasakan jutaan mahasiswa Indonesia lainnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah mahasiswa negeri dan swasta di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mencapai 9,24 juta pada 2025, meningkat dari 8,46 juta pada tahun sebelumnya.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 8 juta merupakan mahasiswa aktif, dengan ribuan hingga puluhan ribu di antaranya menjalani kehidupan merantau untuk menempuh pendidikan, terutama mahasiswa dari luar Pulau Jawa.
Di tengah aktivitas perkuliahan yang padat, komunikasi antara Hani dan kedua orang tuanya tetap terjaga. Setiap hari mereka saling berkabar.
Bagi orang tuanya, Hani bukan hanya anak semata wayang tetapi juga sosok yang selalu menghadirkan kekhawatiran ketika berada jauh dari rumah.
Rutinitas Hani tak jauh berbeda dengan mahasiswa pada umumnya. Pagi hingga sore diisi dengan kegiatan kuliah, sementara malam digunakan untuk beristirahat atau menyelesaikan tugas.
Ketika akhir pekan tiba, waktu luangnya lebih banyak dimanfaatkan untuk memulihkan tenaga setelah menjalani pekan yang padat.
Namun, bagi seorang ibu, jarak tidak pernah mengurangi rasa ingin menjaga anaknya.
Sebulan sekali, ibu Hani hampir selalu mengirimkan berbagai kebutuhan dari kampung halaman.
Mulai dari makanan kesukaan, camilan, hingga barang-barang kecil yang dibutuhkan selama menjalani kehidupan di tanah rantau.
Meski berbagai kebutuhan tersebut sebenarnya dapat ditemukan di Semarang, ada perasaan berbeda ketika kiriman itu datang langsung dari rumah.
“Bisa saja saya beli di sini, tapi rasanya berbeda kalau yang mengirim ibu. Barangnya mungkin sama, tapi perhatian dan kasih sayangnya yang membuat semuanya terasa istimewa,” tutur Hani.
Pada momen-momen tertentu, perhatian itu bahkan hadir dalam bentuk masakan rumahan yang sarat makna.

Saat Iduladha misalnya, sang ibu rela menyiapkan rendang untuk kemudian dikirimkan ke Semarang.
Bagi Hani, rendang tersebut bukan sekadar makanan. Setiap suapan menghadirkan rasa rindu, kehangatan keluarga, dan kenangan akan rumah yang untuk sementara harus ia tinggalkan demi meraih cita-cita.
Agar kasih sayang itu dapat sampai dengan aman, keluarga Hani mempercayakan pengirimannya kepada JNE.
Sejak pertama kali Hani berkuliah di Semarang, JNE telah menjadi penghubung yang memperpendek jarak antara Sumatra dan Jawa.
Beragam kiriman, mulai dari makanan, camilan, perlengkapan pribadi, hingga dokumen penting untuk kebutuhan kuliah, rutin dikirimkan melalui layanan JNE.
“Kalau ada dokumen kampus atau barang yang perlu segera dikirim dari rumah, orang tua biasanya menggunakan JNE. Sudah terbiasa dan lebih praktis,” katanya.
Menurut Hani, dirinya bukan satu-satunya mahasiswa yang mengalami hal tersebut.
Banyak teman sesama perantau juga kerap menerima paket dari orang tua mereka yang berada di berbagai daerah di Indonesia.
Sekilas mungkin terlihat merepotkan, namun bagi para orang tua mengirimkan paket merupakan cara sederhana untuk memastikan anak-anak mereka tetap merasa dekat dengan rumah.
Di setiap kardus yang dikemas rapi, terselip pesan yang tak selalu tertulis bahwa sejauh apa pun anak melangkah, selalu ada keluarga yang menunggu dan mendoakan dari kejauhan.
Selama lebih dari tiga dekade, JNE hadir menjadi bagian dari jutaan cerita serupa di seluruh Indonesia.
Didirikan pada 26 November 1990 oleh almarhum H. Soeprapto Soeparno, JNE terus berkomitmen sebagai perusahaan ekspres dan logistik nasional yang berkontribusi terhadap kemajuan perekonomian bangsa.
Dalam perjalanan lebih dari 35 tahun, JNE berkembang dari sebuah kelompok kecil menjadi perusahaan yang didukung lebih dari 50.000 Ksatria dan Srikandi JNE serta lebih dari 8.000 titik jaringan di seluruh Indonesia.
Presiden Direktur JNE, Mohamad Feriadi Soeprapto, menegaskan bahwa nilai kemanusiaan selalu menjadi fondasi utama perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan.
“Selama lebih dari 35 tahun, JNE senantiasa mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap proses kerja untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan. Dengan semangat Connecting Happiness serta prinsip Berbagi, Memberi, dan Menyantuni, kami terus berinovasi dalam memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya, beberapa waktu yang lalu.
Berdasarkan data yang dikutip dari laman resmi jne.co.id, JNE saat ini memiliki lebih dari 8.000 titik layanan yang tersebar di seluruh Indonesia dan menjangkau lebih dari 83.000 titik tujuan pengiriman, mulai dari kota besar hingga wilayah pelosok dan pulau terluar.
Didukung lebih dari 50.000 karyawan, luasnya cakupan operasional tersebut menjadikan JNE sebagai salah satu perusahaan ekspedisi dengan akses distribusi yang kuat untuk memenuhi kebutuhan pengiriman masyarakat maupun pelaku usaha di berbagai daerah.
Bagi Hani dan jutaan perantau lainnya, kehadiran JNE bukan hanya soal mengantarkan paket dari satu kota ke kota lain.
Lebih dari itu, JNE menjadi penghubung cerita, penyampai rindu, dan jembatan kasih sayang yang terus bergerak bersama masyarakat Indonesia.
Karena pada akhirnya, tidak semua kiriman berisi barang. Sebagian membawa rasa cinta yang tak pernah lekang oleh jarak.(Red)


